Tokiyuki dan rekan-rekannya berlari kencang melintasi medan perang, tak menyisakan sedetik pun waktu untuk beristirahat demi menyampaikan informasi kepada sekutu-sekutu mereka. Namun, ketika mereka tiba di garis depan utara tempat Mochizuki dan Tokoiwa sedang bertempur, yang mereka saksikan adalah sebuah benteng yang dilalap api dan hancur berantakan… Ayako ambruk karena kesedihan saat memikirkan ayahnya, Shigenobu Mochizuki.
